ada arlingga disini

ada siapa disana?

Archive for June 2013

Sebelas Lawan Sebelas

leave a comment »

Kepada, Bung Karno, Putra Sang Fajar.

6 Juni 112 tahun yang lalu adalah hari lahirmu. 6 Juni hari ini, kami kembali memanjatkan syukur untuk perjuangan rakyat Indonesia yang berpucuk pada Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia 17 Agustus 1945 yang kau ucapkan. Masih kau ingat itu, Bung Karno? Hari ini kami sudah merdeka ! Kami sudah merdeka ! Merdeka !

Merdeka?

Kami berjanji akan melanjutkan perjuanganmu. Sebagian dari negara ini sudah merdeka, belum semuanya. Bau anyir darah penjajah masih bisa kami rasakan. Perjuangan kami belum berakhir, Bung. Kepada Sang Khaliq, mohonkan bantuan untuk kami. Jangan biarkan kami menjadi kaum yang tersesat.

Tahun ’45, kalian kirim Belanda dan Jepang pulang. Tahun ini, tepat di hari ulang tahunmu, 6 Juni, kami undang Belanda kembali datang. Kami tantang Belanda sebelas-lawan-sebelas esok hari, di gelanggang atas nama besarmu, Gelora Bung Karno. Sebelas pahlawan kami hari ini sudah siap. Puluhan tahun kami bertempa diri, mencari sepuluh pemuda pemberani dibawah pimpinan seorang kapitan. Mereka akan menunjukkan pahit getirnya perjuangan mengangkat lambang Garuda di dada.

Kami undang Belanda kembali datang, Bung. Peta kekuatan kami lebih hebat hari ini. Coba lihat persiapan kami, agenda perang latih tanding setiap tahun. Kompetisi kami adalah yang terbaik. Bertarung diatas lapangan terbaik tanah air. Tidakkah kau bangga akan hal ini?

Sampaikan kepada kami geloramu, Bung Karno. Di gelanggang inilah, esok hari akan kami gilas Belanda kembali. Sebelas-lawan-sebelas.

filmsukarno.com
#suratUntukBung

Written by arlingga

June 6, 2013 at 5:43 pm

Posted in blog

Presto !

leave a comment »

agaknya saya masih percaya jika Indonesia diserang secara terbuka, maka seluruh rakyat Indonesia akan bergerak melawan. jikapun tidak bergerak secara fisik untuk maju bertempur, pasti ada suara hati kecil yang akan ikut berjuang melakukan perlawanan. gerakan perlawanan itu akan dilakukan oleh seluruh putra bangsa Indonesia. tidak peduli agama sepakbola, agama basket, atau agama apapun. persatuan akan terjadi, dan pembelaan kepada negara akan terjadi. seluruh agama berjuang untuk satu negara.

jika yang diserang adalah suatu agama, maka yang akan melakukan perlawanan adalah penganut agama tersebut. jika yang diserang adalah agama sepakbola, dan penyerangan terjadi di Indonesia, maka penganut agama sepakbola dari berbagai negara akan bergerak melawan. karena penyerangan yang terjadi telah mencederai agama yang mereka ikuti. seluruh negara berjuang untuk satu agama.

jika pemicu tidak disulut, maka tidak akan terjadi ledakan. jika Indonesia tidak diserang, maka tidak akan terjadi persatuan? jika agama sepakbola tidak diserang, maka tidak akan terjadi persatuan? jika Tim Nasional Sepakbola Negara Indonesia tidak diserang, maka pendukung Tim Nasional Sepakbola Negara Indonesia tidak akan bersatu?

jika tidak ada penyerang dari negara asing, kita akan kurang kerjaan. tidak ada pemicu yang harus dijinakkan, maka semua akan kembali tenang, tidak ada persatuan. benarkah demikian? benarkah semua akan kembali tenang? kembali tenang karena tidak ada serangan dari negara asing?

mungkin kodrat kita adalah untuk bersatu dan berjuang. jika yang sedang diperjuangkan adalah negara, maka manusia putra negara tersebut akan bersatu untuk ikut berjuang. jika yang diperjuangkan adalah sebagian kecil dari negara, maka anggota bagian kecil tersebut akan bersatu.

jika yang sebagian kecil dari negara tersebut sedang bersatu dan berjuang atas apa yang layak mereka perjuangkan, dan yang menjadi lawan perjuangan dan persatuan mereka adalah negara mereka sendiri, maka tidak akan terjadi persatuan dalam negara tersebut. maka itulah perang negara dengan yang sebagian kecil dari negara tersebut. yaitu perang melawan diri sendiri. perang manusia melawan dirinya sendiri. perang manusia melawan nafsu dirinya sendiri.

yang menjadi menarik adalah bagaimana manusia bisa menghadapi nafsu dirinya sendiri, bagaimana negara menghadapi sebagian kecil dari negara itu sendiri. menganut cara lama, jika ada duri dalam daging maka duri itu harus disingkirkan terlebih dahulu. jika ada sebagian kecil dari keseluruhan negara tersebut menjadi duri, maka yang sebagian kecil tersebut harus disingkirkan terlebih dahulu. tapi ternyata ada cara baru menghadapi duri dalam daging. kita buat duri menjadi lunak sehingga tidak mencederai kenikmatan seluruh daging. kita buat yang sebagian kecil negara tersebut menjadi lunak, sehingga keseluruhan negara akan tetap menjadi nikmat. ya, presto !

tulisan ini dibuat di tengah macetnya kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta hari ini yang sedang menggelar acara Muktamar Khilafah HTI.

Written by arlingga

June 2, 2013 at 12:34 pm

Posted in blog