ada arlingga disini

ada siapa disana?

Archive for the ‘blog’ Category

Senja di Jakarta

leave a comment »

Senja sore itu terlalu cerah untuk mengantarkan mereka pulang dari kantor atau sekolah. Lelah pagi dan siang memudar bersamaan dengan hantaran sinar matahari sore Jakarta. Wajah lesu seolah terhapus dengan pancaran sinar yang memantul dari mata dan bibir mereka. Tapi tidak bagi satu orang. Ya, satu orang, indahnya senja sore itu tidak seindah senja yang selama ini dia kenal. Senja yang bisa meredam getar hati dan sesaknya pikiran. Sore itu dia harus meninggalkan Jakarta, meninggalkan buaian nyata dari apa yang dia cita-citakan dahulu. Ditemani senja dan harapan yang saling mengingatkan.

Dari sudut ruang tunggu utara Stasiun Pasar Senen, sambil menunggu kereta Senja Utama Yogya yang akan mengantarku menuju chapter hidupku berikutnya, Yogyakarta :)

Written by arlingga

October 26, 2016 at 6:34 pm

Posted in blog

Tagged with

Hariku Bersamanya

leave a comment »

Malam itu, Kamis, 17 Desember 2015 di lesehan tepi jalan Malioboro. Sambil menikmati jajanan khas Jogja, kami ditemani sekelompok pengamen dengan tembang karya warga setempat, Sheila On 7. Mengalun lagu pembuka adalah Hariku Bersamanya, dengan iringan alat musik sederhana namun bisa membawa suasana.

Hari telah terganti dan tak bisa ku hindari. Tibalah saat ini bertemu dengannya. Jantung berdegup cepat dan kaki bergetar hebat. Akankah aku ulangi merusak harinya.

Kau tahu betapa aku lemah dihadapannya. Kau tahu berapa lama aku mendambakannya.

Mohon Tuhan, untuk kali ini saja. Beri aku kekuatan untuk menatap matanya.

Mohon Tuhan, untuk kali ini saja. Lancarkanlah hariku. Hariku bersamanya.

Hariku bersamanya.

Lirik lagu apik makin terasa spesial, seolah menyampaikan kabar langit seorang hamba ketika bertemu kembali dengan wajah lama. Ya, hari itu, hariku bersamanya.

Bertahun tak jumpa setelah pertemuan pertama di Kota Malang, sampai tiba hari itu bertemu kembali, di lesehan tepi jalan Malioboro, menikmati jajanan khas Jogjakarta, dengan iringan lagu sederhana, hariku bersamanya.

Lancarkan hariku, Tuhan. Hariku bersamanya.

Ditulis di kereta malam Bogowonto yang membawaku kembali ke Jogjakarta, Jumat, 15 Januari 2016.

Written by arlingga

January 15, 2016 at 11:22 pm

Posted in blog

ada kado batu nisan

leave a comment »

sore itu saya membaca surat kabar lokal disela waktu santai sepulang sekolah. membolak-balik surat kabar dengan hanya melihat judul dan gambar adalah hal yang lumrah. memilih berita mana yang sekiranya menarik untuk dibaca, salah satunya adalah berita pagelaran wayang kulit di hari sebelumnya. pagelaran itu diadakan untuk merayakan ulang tahun walikota. beliau mengadakan pagelaran wayang kulit agar bisa dinikmati bersama warga.

yang menarik dari gambar itu, sebagaimana diuraikan dalam tulisan, adalah foto si dalang yang sedang menyerahkan batu nisan kepada bapak walikota. pada bagian atas batu nisan tersebut tertulis jelas nama bapak walikota, dibawahnya ada tulisan ‘lahir’ yang diikuti dengan tanggal lahir si bapak. sedangkan di bagian bawahnya lagi terdapat tulisan ‘wafat’ yang biasanya diikuti dengan tanggal wafat orang yang namanya tertulis di bagian atas. tapi saat itu, disamping tulisan ‘wafat’ belum ada tulisan apapun, alias tanggal wafatnya masih kosong. si dalang menyerahkan batu nisan berbalut kain kafan tersebut kepada bapak walikota sebagai kado ulang tahunnya.

sontak saya bertanya kepada bapak saya yang saat itu sedang menikmati tayangan televisi. apa maksud kado ulang tahun yang berupa batu nisan itu? karena yang muncul di benak saya saat itu adalah hal-hal yang kurang bersahabat. ancaman kah? atau protes keras kah? atau sindiran?

bapak saya memberikan jawaban singkat yang masih bisa saya pahami, yaitu batu nisan sebagai pengingat bahwa usia si bapak walikota jelas bukan usia muda lagi. kado itu juga berlaku sebagai pengingat seberapa besar kesiapan si bapak jika pada waktunya nanti tanggal wafatnya harus ditulis di batu itu. kado yang penuh makna, sangat dalam, gaya khas seniman, juga kira-kira sebagai wujud ‘dawuhan’ sang dalang kepada penerima kado.

tidak terlihat ekspresi marah, kesal, atau tersinggung di foto tersebut. si bapak penerima kado tampaknya bisa memahami betul apa makna kado itu. lagipula dengan usianya saat itu, saya yakin si bapak tidak mengharapkan kado gadget baru, mobil, atau tiket liburan ke luar negeri.

beberapa waktu berikutnya saya melupakan berita itu sampai kemudian tiba giliran saya yang berulang tahun. terbesit di ingatan saya tentang berita seorang dalang yang menyerahkan batu nisan sebagai kado ulang tahun bapak walikota. kado kecil, bukan saya yang menerima, tapi saya seolah ikut ‘diingatkan’ tentang makna dari kado tersebut.

hari itu pula saya merenung, membuka refleksi diri, berpikir, dan berdialog dengan Sang Khaliq. apa yang sudah saya perbuat dengan umur saya, bagaimana kondisi saya saat ini, kemana harus mencari makna kehidupan, dan jika waktu itu tiba, sudah siapkah saya?

Written by arlingga

February 18, 2014 at 10:48 am

Posted in blog

ada reality distortion field

leave a comment »

distorsi realitas lapangan, kira-kira begitulah terjemahan kasar dari reality distortion field atau yang dikenal dengan singkatan RDF. saya pertama kali mengetahui istilah ini dari membaca tulisan Walter Isaacson dalam buku biografi Steve Jobs (bab: NeXT). dari situ kemudian saya cari padanan topik yang membahas hal serupa, salah tiganya ada disini, disitu, dan disana.

entah mengapa saya tiba-tiba tertarik dengan istilah ini meski belum mengerti betul apa maksudnya. RDF yang saya maksud ini merujuk pada kebiasaan Steve Jobs yang terkesan mengabaikan realitas di lapangan pada saat membuat produk. mungkin inilah kelebihan Steve Jobs, bisa menjadi sangat optimis terhadap apa yang sedang dibuatnya, sehingga hal yang menurut orang lain tidak mungkin (dan kemudian seolah tampak ajaib) bisa menjadi mungkin diwujudkan, dan memang pada akhirnya memang benar-benar dapat diwujudkan.

tentu saja Steve Jobs tidak sendirian saat membuat sebuah produk, dan yang seolah tampak lebih ajaib lagi adalah bagaimana hal tersebut bisa menular dan diturunkan ke rekan kerjanya. kepemimpinan macam Steve Jobs seolah menjadi contoh kemampuan delegasi yang sangat efektif . seperti dikutip di beberapa tulisan, saat berbicara dengan Steve Jobs, rekan kerjanya menyadari betul bahwa beberapa permintaannya memang tampak mustahil dilakukan. tapi pada akhirnya mereka pun takjub dengan apa yang sudah mereka lakukan sendiri, yaitu mewujudkan permintaan yang tampak mustahil tersebut menjadi sebuah kenyataan.

“If he’s decided that something should happen, then he’s just going to make it happen. And the effect was contagious.”, Elizabeth Holmes – karyawan generasi awal Apple Inc.

“If you trust him, you can do things.”, Bud Tribble – software designer, Macintosh.

“The reality distortion field was a confounding mélange of a charismatic rhetorical style, indomitable will, and eagerness to bend any fact to fit the purpose at hand.”, Andy Hertzfeld – software designer, Macintosh. Hertzfeld melanjutkan, “Amazingly, the reality distortion field seemed to be effective even if you were acutely aware of it. We would often discuss potential techniques for grounding it, but after a while most of us gave up, accepting it as a force of nature.”

“His reality distortion is when he has an illogical vision of the future, such as telling me that I could design the Breakout game in just a few days. You realize that it can’t be true, but he somehow makes it true.”, Steve Wozniak – co-founder, Apple Inc.

reality distortion field gaya Steve Jobs ini sering pula dikaitkan dengan versi ekstrem dari istilah pervasive optimistic bias. saya tidak membahas hal itu terlalu dalam karena saya juga belum paham benar apa maksudnya. yang jelas adalah memiliki sifat yang optimis bisa menjadi keuntungan, terutama dalam menghadapi rintangan pada saat berjuang mewujudkan visi. namun dalam beberapa kasus, optimisme yang berlebihan justru menjadi blunder, bukan begitu?

Written by arlingga

February 17, 2014 at 1:55 am

ada gunung kelud meletus

with one comment

hari kamis, tanggal 13 februari 2014, pukul 22:50 wib, gunung kelud di jawa timur meletus. malam itu posisi saya ada di jakarta, langsung saya kontak dengan orang tua saya di malang. alhamdulillah, kota malang tidak terkena dampak letusan gunung kelud.

kondisi berbeda dialami keluarga di ngantang, hujan kerikil dan pasir, karena lokasi yang cukup dekat dengan kaki gunung kelud. keluarga di blitar juga dihubungi, ada yang sudah mengungsi sementara, ada pula yang masih di rumah karena lokasinya masih dalam jarak aman.

selain di sekitar kaki gunung kelud, dampak letusan mencakup wilayah yang cukup luas, angin membawa abu letusan gunung ke arah barat jauh. jogjakarta dan solo berubah warna karena abu tebal, bahkan abu juga dirasakan sampai bandung, jawa barat. begitu juga dengan daerah di sebelah utara gunung kelud, abu gunung kelud dirasakan di mojokerto, surabaya, dan madura.

sambil terus memantau perkembangan melalui beberapa media, teriring doa memohon agar proses pemulihan bisa berjalan dengan lancar. alam memang terus menyediakan yang terbaik untuk kita, tinggal bagaimana kita bisa berdamai dengan alam, bukan begitu?

Written by arlingga

February 16, 2014 at 5:53 am

Posted in blog

Tagged with