ada arlingga disini

ada siapa disana?

Hariku Bersamanya

leave a comment »

Malam itu, Kamis, 17 Desember 2015 di lesehan tepi jalan Malioboro. Sambil menikmati jajanan khas Jogja, kami ditemani sekelompok pengamen dengan tembang karya warga setempat, Sheila On 7. Mengalun lagu pembuka adalah Hariku Bersamanya, dengan iringan alat musik sederhana namun bisa membawa suasana.

Hari telah terganti dan tak bisa ku hindari. Tibalah saat ini bertemu dengannya. Jantung berdegup cepat dan kaki bergetar hebat. Akankah aku ulangi merusak harinya.

Kau tahu betapa aku lemah dihadapannya. Kau tahu berapa lama aku mendambakannya.

Mohon Tuhan, untuk kali ini saja. Beri aku kekuatan untuk menatap matanya.

Mohon Tuhan, untuk kali ini saja. Lancarkanlah hariku. Hariku bersamanya.

Hariku bersamanya.

Lirik lagu apik makin terasa spesial, seolah menyampaikan kabar langit seorang hamba ketika bertemu kembali dengan wajah lama. Ya, hari itu, hariku bersamanya.

Bertahun tak jumpa setelah pertemuan pertama di Kota Malang, sampai tiba hari itu bertemu kembali, di lesehan tepi jalan Malioboro, menikmati jajanan khas Jogjakarta, dengan iringan lagu sederhana, hariku bersamanya.

Lancarkan hariku, Tuhan. Hariku bersamanya.

Ditulis di kereta malam Bogowonto yang membawaku kembali ke Jogjakarta, Jumat, 15 Januari 2016.

Written by arlingga

January 15, 2016 at 11:22 pm

Posted in blog

WhatsApp Web dan Teknologi Web Browser

with 7 comments

Berawal dari kabar bahwa WhatsApp meluncurkan WhatsApp Web https://blog.whatsapp.com/614/WhatsApp-Web, saya jadi tersadar sesuatu soal teknologi.

Pertama, teknologi chat saat ini sedang jadi primadona disamping teknologi jual beli online dan jasa titip-menitip semacam uber atau instachart. WhatsApp dengan 700 juta user saat ini jadi market leader soal mobile chat http://recode.net/2015/01/06/whatsapp-keeps-on-growing-hits-700-million-users/.

Kedua, soal web browser dan layer teknologi didalamnya. Saya masih ingat 3-4 tahun lalu saya masih merekomendasikan Firefox sebagai acuan saat membuat website. Nah sekarang sepertinya saya tidak harus merekomendasikan hal yang sama kepada teman-teman yang sedang membuat website. Bukan hanya Firefox, Chrome juga harus diperhitungkan serius saat terlibat dalam proses pembuatan web apps.

WhatsApp meluncurkan WhatsApp Web, artinya chat dengan WhatsApp sekarang bisa dilakukan di desktop/laptop. Langsung saya coba pake laptop saya. Ternyata baru bisa jalan di browser Chrome. Saat scan QR code di WhatsApp Web dengan aplikasi WhatsApp saya di smartphone, saya langsung bengong beberapa detik. Antara merasa begitu jadul atau merasa beruntung bisa tersadar dengan pergerakan teknologi saat ini via apa yang dilakukan WhatsApp Web dan Chrome. Semuanya instan, real-time, dan berasa seperti mirroring chat antara apa yang ada di smartphone dan browser laptop.

Temen saya langsung komentar karena ternyata cuma ada di Chrome dan katanya cuma sync ke apps di smartphone, bukan cloud atau apalah. Saya juga baca beberapa komentar di blog dan twitter yang sedang membahas hal yang sama dengan nuansa yang sama, baru bisa jalan di Chrome dan apps di smartphone/tablet yang juga harus online, tidak bisa hanya online di WhatsApp Web saja. Tapi bagi saya ini tetap kemajuan teknologi yang keren. Shifting technology kalo istilahnya Pak Eric Schmidt.

Kenapa cuma Chrome? Apa tim teknis WhatsApp (yang mungkin didukung tim teknis gabungan dari Facebook) belum bisa bikin cross-browser dan cross-platform? Setelah saya bengong tadi, saya jadi teringat kabar beberapa hari sebelumnya bahwa Google sudah tidak jadi default search engine di Firefox http://techcrunch.com/2014/12/01/firefox-34-launches-with-yahoo-as-its-default-search-engine/.

Saya pikir ini kemajuan bagi Yahoo untuk merebut pasar dengan coba menggeser Google via default search engine di Firefox, tapi ternyata lebih dari itu. Google sudah punya Chrome, dan Chrome sudah mulai mendominasi desktop browser usage sejak Q2 2012 http://en.wikipedia.org/wiki/Usage_share_of_web_browsers. Jadi bukan prioritas utama lagi bagi Google untuk jadi default search engine selain di Chrome. FYI, Marissa Mayer CEO Yahoo dulunya penggawa di Google dan ikut membangun corporate culture Google sampe akhirnya jadi perusahaan multibillon-dollar.

Kalo aplikasi WhatsApp Web ini masalahnya soal cross-browser, ya artinya sama dengan programmer website yang selalu dipusingkan dengan Internet Explorer terdahulu, sampai ada istilah IE-hack. Bedanya, teknisi WhatsApp sekarang bukan pusing karena IE-hack atau FF-hack, tapi mereka menunggu browser-browser lain untuk bisa mendukung teknologi yang sedang mereka kerjakan. Karena saat ini mereka sudah memungkinkan untuk dijalankan via desktop browser, tapi ternyata baru Chrome yang mampu memfasilitasi teknologi itu.

Chrome pun sudah jadi platform tersendiri, lebih dari sekedar web browser. Tidak hanya seputar addons browser dan plugins yang bisa ditambahkan ke Chrome. Tapi game dan aplikasi pun bisa dibikin dengan platform Chrome dan didistribusikan via Chrome Web Store.

Selain WhatsApp Web yang punya Chrome App, Tweetdeck pun punya Chrome App, lebih dari sekedar aplikasi website. Bahkan saya pernah iseng bikin aplikasi notifikasi client-server semacam message broadcaster dengan platform Chrome yang bahkan bisa dijalankan tanpa harus membuka window browser Chrome !

Kalo dulu Firefox adalah primadona browser, bisa jadi arah kekuatan dunia persilatan sedang berubah. Bisa jadi ini bukan soal WhatsApp Web yang belum mendukung browser selain Chrome, tapi soal browser lain yang belum mendukung aplikasi semacam WhatsApp Web.

update 2015-01-27:
Ada banyak diskusi menarik soal whatsapp web yang baru bisa jalan di chrome dan mengharuskan aplikasi whatsapp di mobile device tetap terkoneksi internet, terutama soal standar web dan target pasar, salah satunya ada disini https://news.ycombinator.com/item?id=8926644

update 2015-02-03:
Selain Chrome, WhatsApp Web juga bisa dijalankan di browser Opera. Berikut posting menarik dari sesepuh Opera di Indonesia, Mas Yeni Setiawan, soal WhatsApp Web untuk browser Opera http://sandalian.com/opera/menggunakan-whatsapp-for-web-di-browser-opera.html

Written by arlingga

January 24, 2015 at 4:25 pm

Posted in teknologi

Tagged with , , , ,

ada kado batu nisan

leave a comment »

sore itu saya membaca surat kabar lokal disela waktu santai sepulang sekolah. membolak-balik surat kabar dengan hanya melihat judul dan gambar adalah hal yang lumrah. memilih berita mana yang sekiranya menarik untuk dibaca, salah satunya adalah berita pagelaran wayang kulit di hari sebelumnya. pagelaran itu diadakan untuk merayakan ulang tahun walikota. beliau mengadakan pagelaran wayang kulit agar bisa dinikmati bersama warga.

yang menarik dari gambar itu, sebagaimana diuraikan dalam tulisan, adalah foto si dalang yang sedang menyerahkan batu nisan kepada bapak walikota. pada bagian atas batu nisan tersebut tertulis jelas nama bapak walikota, dibawahnya ada tulisan ‘lahir’ yang diikuti dengan tanggal lahir si bapak. sedangkan di bagian bawahnya lagi terdapat tulisan ‘wafat’ yang biasanya diikuti dengan tanggal wafat orang yang namanya tertulis di bagian atas. tapi saat itu, disamping tulisan ‘wafat’ belum ada tulisan apapun, alias tanggal wafatnya masih kosong. si dalang menyerahkan batu nisan berbalut kain kafan tersebut kepada bapak walikota sebagai kado ulang tahunnya.

sontak saya bertanya kepada bapak saya yang saat itu sedang menikmati tayangan televisi. apa maksud kado ulang tahun yang berupa batu nisan itu? karena yang muncul di benak saya saat itu adalah hal-hal yang kurang bersahabat. ancaman kah? atau protes keras kah? atau sindiran?

bapak saya memberikan jawaban singkat yang masih bisa saya pahami, yaitu batu nisan sebagai pengingat bahwa usia si bapak walikota jelas bukan usia muda lagi. kado itu juga berlaku sebagai pengingat seberapa besar kesiapan si bapak jika pada waktunya nanti tanggal wafatnya harus ditulis di batu itu. kado yang penuh makna, sangat dalam, gaya khas seniman, juga kira-kira sebagai wujud ‘dawuhan’ sang dalang kepada penerima kado.

tidak terlihat ekspresi marah, kesal, atau tersinggung di foto tersebut. si bapak penerima kado tampaknya bisa memahami betul apa makna kado itu. lagipula dengan usianya saat itu, saya yakin si bapak tidak mengharapkan kado gadget baru, mobil, atau tiket liburan ke luar negeri.

beberapa waktu berikutnya saya melupakan berita itu sampai kemudian tiba giliran saya yang berulang tahun. terbesit di ingatan saya tentang berita seorang dalang yang menyerahkan batu nisan sebagai kado ulang tahun bapak walikota. kado kecil, bukan saya yang menerima, tapi saya seolah ikut ‘diingatkan’ tentang makna dari kado tersebut.

hari itu pula saya merenung, membuka refleksi diri, berpikir, dan berdialog dengan Sang Khaliq. apa yang sudah saya perbuat dengan umur saya, bagaimana kondisi saya saat ini, kemana harus mencari makna kehidupan, dan jika waktu itu tiba, sudah siapkah saya?

Written by arlingga

February 18, 2014 at 10:48 am

Posted in blog

ada reality distortion field

leave a comment »

distorsi realitas lapangan, kira-kira begitulah terjemahan kasar dari reality distortion field atau yang dikenal dengan singkatan RDF. saya pertama kali mengetahui istilah ini dari membaca tulisan Walter Isaacson dalam buku biografi Steve Jobs (bab: NeXT). dari situ kemudian saya cari padanan topik yang membahas hal serupa, salah tiganya ada disini, disitu, dan disana.

entah mengapa saya tiba-tiba tertarik dengan istilah ini meski belum mengerti betul apa maksudnya. RDF yang saya maksud ini merujuk pada kebiasaan Steve Jobs yang terkesan mengabaikan realitas di lapangan pada saat membuat produk. mungkin inilah kelebihan Steve Jobs, bisa menjadi sangat optimis terhadap apa yang sedang dibuatnya, sehingga hal yang menurut orang lain tidak mungkin (dan kemudian seolah tampak ajaib) bisa menjadi mungkin diwujudkan, dan memang pada akhirnya memang benar-benar dapat diwujudkan.

tentu saja Steve Jobs tidak sendirian saat membuat sebuah produk, dan yang seolah tampak lebih ajaib lagi adalah bagaimana hal tersebut bisa menular dan diturunkan ke rekan kerjanya. kepemimpinan macam Steve Jobs seolah menjadi contoh kemampuan delegasi yang sangat efektif . seperti dikutip di beberapa tulisan, saat berbicara dengan Steve Jobs, rekan kerjanya menyadari betul bahwa beberapa permintaannya memang tampak mustahil dilakukan. tapi pada akhirnya mereka pun takjub dengan apa yang sudah mereka lakukan sendiri, yaitu mewujudkan permintaan yang tampak mustahil tersebut menjadi sebuah kenyataan.

“If he’s decided that something should happen, then he’s just going to make it happen. And the effect was contagious.”, Elizabeth Holmes – karyawan generasi awal Apple Inc.

“If you trust him, you can do things.”, Bud Tribble – software designer, Macintosh.

“The reality distortion field was a confounding mélange of a charismatic rhetorical style, indomitable will, and eagerness to bend any fact to fit the purpose at hand.”, Andy Hertzfeld – software designer, Macintosh. Hertzfeld melanjutkan, “Amazingly, the reality distortion field seemed to be effective even if you were acutely aware of it. We would often discuss potential techniques for grounding it, but after a while most of us gave up, accepting it as a force of nature.”

“His reality distortion is when he has an illogical vision of the future, such as telling me that I could design the Breakout game in just a few days. You realize that it can’t be true, but he somehow makes it true.”, Steve Wozniak – co-founder, Apple Inc.

reality distortion field gaya Steve Jobs ini sering pula dikaitkan dengan versi ekstrem dari istilah pervasive optimistic bias. saya tidak membahas hal itu terlalu dalam karena saya juga belum paham benar apa maksudnya. yang jelas adalah memiliki sifat yang optimis bisa menjadi keuntungan, terutama dalam menghadapi rintangan pada saat berjuang mewujudkan visi. namun dalam beberapa kasus, optimisme yang berlebihan justru menjadi blunder, bukan begitu?

Written by arlingga

February 17, 2014 at 1:55 am

ada gunung kelud meletus

with one comment

hari kamis, tanggal 13 februari 2014, pukul 22:50 wib, gunung kelud di jawa timur meletus. malam itu posisi saya ada di jakarta, langsung saya kontak dengan orang tua saya di malang. alhamdulillah, kota malang tidak terkena dampak letusan gunung kelud.

kondisi berbeda dialami keluarga di ngantang, hujan kerikil dan pasir, karena lokasi yang cukup dekat dengan kaki gunung kelud. keluarga di blitar juga dihubungi, ada yang sudah mengungsi sementara, ada pula yang masih di rumah karena lokasinya masih dalam jarak aman.

selain di sekitar kaki gunung kelud, dampak letusan mencakup wilayah yang cukup luas, angin membawa abu letusan gunung ke arah barat jauh. jogjakarta dan solo berubah warna karena abu tebal, bahkan abu juga dirasakan sampai bandung, jawa barat. begitu juga dengan daerah di sebelah utara gunung kelud, abu gunung kelud dirasakan di mojokerto, surabaya, dan madura.

sambil terus memantau perkembangan melalui beberapa media, teriring doa memohon agar proses pemulihan bisa berjalan dengan lancar. alam memang terus menyediakan yang terbaik untuk kita, tinggal bagaimana kita bisa berdamai dengan alam, bukan begitu?

Written by arlingga

February 16, 2014 at 5:53 am

Posted in blog

Tagged with

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.